Kamis, 15 Desember 2016

Dibalik Boikot Sari Roti [Perspektif]

Assalamualaikum! :)

Well, This is my first write on my new blog and massive sorry because this is gonna be full of mistakes. :D Xxx

Merujuk ke judul nya, tulisan saya sama sekali tidak ada unsur politik nya kan? Jadi sebelum mulai, untuk konfirmasi. tulisan saya ditujukan bukan untuk pihak-pihak tertentu yang sedang 'ribut' tentang you-know-what lah.

Tulisan ini cuma pendapat penulis yang memiliki hak untuk dihargai serta tidak ingin memaksakan pendapat orang lain atau sebaliknya, dipaksakan oleh pendapat orang lain.

Dimulai dari suatu post di Facebook yang saya lihat kemarin, tentang Pak Thurmuzi, seorang penjual Sari Roti Keliling (Hawker Trycycle).

Ia menyatakan dalam post yang ditulis seorang Pria yang menjadi langganan Roti Pak Thurmizi.
“Pada mboikot mas ndak mikirin orang kecil kayak saya ini harus makan. Seenaknya aja mentang-mentang pada demo. Saya yang pusing sekarang. Anak istri mau dikasi makan apa. Cari uang udah susah malah ditambah susah…”

Foto Fauzan Emmerling.



Bisa dilihat post aslinya di
https://www.facebook.com/femmerling/posts/10155033070008570

Salut sekali untuk pemilik post yaitu Fauzan Emmerling! Big Respect!

Entah memang diri saya yang tidak mengerti alasan para pemboikot untuk memboikot, karna jujur saja, alasannya tidak masuk akal. Memang tiap orang punya cara pandang sendiri terhadap segalanya namun jika 'saya memboikot karna mereka mengakui hal yang mereka tidak lakukan' itu miris sekali. 

Hal yang tidak mereka lakukan = Membagikan produk secara gratis
Mereka mengakui hal yang mereka tidak lakukan = Jujur
Hal yang mereka lakukan = Jujur


Jadi 'saya memboikot karena mereka Jujur'. Kalian memboikot karena mereka jujur? Tidak masuk akal mengingat hal yang mereka lakukan hanya jujur dan tidak ada unsur menyudutkan pihak manapun.

Tapi sekali lagi semua orang punya perspektif masing-masing. Maka, saya hargai dan tidak memaksa kalian mengikuti cara pandang saya, berhenti memboikot ataupun membeli sari roti. Tidak.

Payahnya, ada yang ikut pemboikotan karena ikut-ikutan.
"Boikot lah, orang katanya Sari Roti tuh dukung Ahok"
"Katanya sih dinilai tidak mendukung Demo"

Tau dampak negatifnya?






































Dibuang-buang gitu <//////3


Saya yakin, agama manapun tidak mengajarkan menyianyiakan makanan, rezeki dari Tuhan.

Saya berharap tulisan ini bisa menjadi pendapat yang menambah pengetahuan dan pertimbangan dalam perspektif kalian.

Saya tidak mendukung pemboikotan bukan karna saya Non-Muslim, Saya Muslim. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah.

Bukan karena saya tidak mengerti agama saya, Saya mengerti, Saya Shalat, mengaji dan belajar agama saya

Bukan karena saya pendukung Ahok, saya sama sekali bukan pendukungnya. Saya belum memiliki hak pilih (dibawah 17 tahun). Kalaupun memiliki saya tidak akan memilihnya.

Saya hanya tidak bodoh karena memiliki perspektif sendiri.

Terimakasih. Salam Damai! 

💙💚💛💜❤








Tidak ada komentar:

Posting Komentar